Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
To:(sebuah nama dalam bahasa arab yang artinya adalah " BUAH PEMIKIRAN ")
Sebenarnya
surat ini ingin aku kirimkan kpadamu wahai engkau yg mampu menundukkan
hatiku, surat ini ingin ku selipkan dalam satu kehidupanmu, namun aku
hanya lelaki yg tak memiliki keberanian dalam mengungkapkan semua
percikan-percikan rasa yang terjadi dalam hatiku. Aku hanya dia yang
engkau anggap tidak lebih, aku hanya merasa seperti itu.
Wahai engkau yang mampu menundukkan hatiku,
jilbabmu
indah bagaikan bidadari. Senyummu manis menawan hati. Buat aku gak bisa
nahan diri, buat ngungkapin dalam hati “ana uhibbuki ya ukhti”.
Tapi aku selalu menunduk malu.
Tak berani menatap mata indah yang engkau miliki, karena aku takut dapat memudarkan imanku.
Seperti yang engkau tau, aku selalu berusaha menjauh darimu, aku selalu berusaha tak acuh padamu.
Saat di depanmu, aku ingin tetap berlaku dengan normal walau perlu usaha untuk mencapainya.
Tahukah engkau wahai yang mampu menundukkan hatiku?
Entah
mengapa aku dengan mudah berkata “CINTA” kepada mereka yang tidak aku
cintai namun kepadamu,, lisan ini seolah terkunci. Dan aku merasa
beruntung untuk tidak pernah berkata bahwa aku mencintaimu, walau
teramat sakit saat mengetahui bahwa aku bukanlah mereka yang engkau
cintai, walaupun itu hanya sebagian dari prasangkaku.
Jika boleh
beralasan, mungkin aku Cuma takut engkau akan menjadi ”sahabat” bagiku,
karena itu aku mencoba untuk mengurung rasa itu jauh ke dalam, mendorong
lagi, dan lagi hingga yang terjadi adalah tolakan-tolakan yang
membuatku semakin tidak mengerti.
Sakit hatiku memang saat prasangkaku berbicara bahwa engkau mencintai dan takkan ada aku dalam kamus cintamu.
Namun
1000 kali rasa itu lebih baik saat aku mengerti bahwa senyummu adalah
sesuatu yg berarti bagiku. Ketentramanmu adalah buah cinta yg amat
teramat mendekap hatiku, dan aku mengerti bahwa aku harus mengalah.
Wahai engkau yang mampu menundukkan hatiku.
Andai
aku boleh berdo’a kepada Tuhan, mungkin aku ingin meminta agar Dia
membalikkan sang waktu agar aku mampu mengedit saat-sat pertemuan itu
hingga tak ada tatapan pertama itu yg membuat hati ini terus
mengingatmu. Jarang aku memandang wanita, namun saat memandangmu dengan 1
pandangan saja mampu meluluhkan hati ini.
Sebagian teman
memintaku untuk membuka tabir lisan ini terhadapmu, namun di sisi lain
ada dorongan yang begitu kuat untuk tetap menahan rasa yang terlalu awal
yang telah tertancap di hati ini dan membukanya saat waktu yang indah
yg telah ditentukan.
Wahai engkau yang mampu menundukkan hatiku,
mungkin
aku bukanlah lelaki tangguh yang siap untuk segera menikah denganmu.
Masih banyak sisi lain hidup ini yang harus ku kelola dan kutata
kembali.
Aku harus menyelesaikan studyku, meraih citaku, juga memperindah akhlakku agar ku mampu memimpin rumah tangga dengan teguh.
Agar ku mampu menahkodai bahteraku nanti dalam indah atau dalam badai.
Juga kamu yang telah menundukkan hatiku,
kamu yg dengan halus menolak diriku menurut prasangkaku dengan alasan belum saatnya memikirkan itu.
Sungguh
aku tidak ingin menanggung beban ini yg akan berujung ke sebuah
kefatalan kelak jika hati ini tak mampu kutata. Juga aku tidak ingin
berpacaran dulu denganmu.
Wahai engkau yang telah menundukkan hatiku,
mungkin
saat ini aku milikmu, namun tak akan ku berikan setitik pun saat-saat
ini karena aku bertekad dalam diriku bahwa saat-saat indahku hanya akan
kuberikan pada bidadariku
Wahai engkau yg tlah menundukkan hatiku,
tahukah
kamu betapa saat-saat inilah yg paling aku kutakutkan dalam diriku,
jika saja Allah tidak menganugerahi aku setitik rasa malu, tentu aku
telah meminangmu bukan sebagai istriku namun sebagai kekasihku.
Andai rasa malu itu tak pernah ada. Tentu aku tidak berusaha menjauhimu.
Kadang
aku bingung apakah penjauhan ini merupakan jalan yang terbaik yang
berarti harus mengorbankan ukhuwah diantara kita, atau harus
mengorbankan iman dan malu ku demi hal yang tampak sepele yang demikian
itu. Aku yang tidak mengerti diriku.
Namun wahai engkau yang tlah menundukkan hatiku,
kadang
aku berpikir semua pasti berlalu dan aku merasa saat-saat inipun akan
segera belalu, tetapi ada ketakutan dalam diriku jika aku melupakanmu.
Aku takut tak akan pernah lagi menemukan dirimu dalam diri mereka-mereka
yang lain.
dalam penantianku aku berdo'a:
Ya Allah..
Jika
memang dialah pendampingku yang tlah engkau lahirkan, gerakan hatinya
tuk menujuku, pertemukan kami dalam sebaik-baiknya pertemuan tuk menuju
Ridha-Mu. Karena Engkaulah yang berhak atas hati hamba-hambamu.
Dan engkau juga yang kuasa membolak-balikannya.
Ya Rabb..
Bila dia jauh dekatkanlah. Eratkan hati kami dalam ikatan karena-Mu
Ya Allah yang maha pecinta pemilik cinta sejati. Jikalau cintaku kau ciptakan untuk dia,
Tabahkan hatinya..
Teguhkan imannya..
Tegarkan penantiannya..
Ya Rabb sang pemilik hati jikalau hatiku KAU ciptakan untuk dia,
penuhi hatinya dengan kasih-Mu,
limpahkan kelapangan di kalbunya dengan kesabaran.
Temani dia dalam kesepian.
Ya Allah..
Tiada tempat ku bersandar selain pada-Mu.
Kutitipkan cintaku pada-Mu untuknya..
Kutitipkan sayangku pada-Mu untuknya..
Kutitipkan rinduku pada-Mu untuknya..
Mekarkan cintaku bersama cintanya..
Satukan hidupku dan hidupnya dalam cinta-Mu..
Ya Allah..
Ku yakin bila saatnya sudah menghampiri, pasti kebahagiaan itu kan aku dapati.
Mohon beri aku kekuatan dan kesabaran dalam penantianku..
Ya Allah..
Kirimkan dia yang dapat membawa kebaikan, baik bagi duniaku, akhiratku, dan agamaku..
Agar kami sama-sama berjama’ah tuk tetap menuju-Mu..
Aamiin...
Cinta..
Biarkan ia BICARA jika telah tiba masanya..
Saat kau datang membawa sebuah harapan..
Dan biarkan ia menampakkan manis dan indahnya.
Saat kau dan aku telah menyatu dalam Ridha-Nya..
Namun, biarkan ia MEMBISU tuk saat ini..
Agar kau dan aku terjaga dalam sucinya hati
Cinta..
Mungkin menyakitkan, ketika ia harus ku pendam dalam hati..
Tetapi, cinta akan lebih menyakitkan, jika harus ku umbar kepadamu yang belum halal bagiku.
Mengertilah, cinta..
Diamku bukan karena membencimu..
Diamku bukan karena mengacuhkanmu..
Namun, karena aku menjaga hatimu..
Cinta..
Kan tetap ku biarkan ia tersembunyi..
Dalam do’a dan harapan..
Dalam hati dan juga iman..
yang kelak kan Allah tampakkan..
Jika kau dan aku dipersatukan..
Cinta..
Aku menantimu meski tak kau tau..
Aku merindumu dan tak usah kau tau..
Aku mengharapmu dan itupun tak harus kau tau..
Cukuplah aku dan Rabbku yg tau..
Karena ku percaya takdir-Nya yang akan memberitahumu.
Cinta..
Mengapa harus gelisah?
Bukankah kau tau takdir takkan salah?
Mengapa harus bimbang?
Bukankah kau tau jalan Tuhan kan terbentang?
Mengapa harus risau?
Bukankah kau tau Allah kuasa persatukan aku dan kau?
Cinta..
Tersenyumlah..
Meski kelak kita memang terpisah..
Yakinlah..
Bahwa cinta itu kan tetap indah..
terima kasih cinta, untuk hadirmu di dalam hatiku.
yang membuat semakin menguatkan istikharahku, yang menyemarakkan taman hatiku...
kutitip sebuah pinta kepadan-Nya. kiranya hadirmu tiada menyesatkan rasaku.
meski hadirmu ku pendam rapat-rapat dalam diamku,
namun menjadi motivasi bagiku untuk menjadi lebih baik lagi terlebih dalam meraih cinta-Nya..
wahai engkau yang telah menundukkan hatiku,
ijinkan aku menutup surat ini dan biarkan waktu berbicara tentang takdir antara kita..
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar