Minggu, 23 Februari 2014

Untukmu Wahai Calon Bidadariku

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

To:(sebuah nama dalam bahasa arab yang artinya adalah " BUAH PEMIKIRAN ")

Sebenarnya surat ini ingin aku kirimkan kpadamu wahai engkau yg mampu menundukkan hatiku, surat ini ingin ku selipkan dalam satu kehidupanmu, namun aku hanya lelaki yg tak memiliki keberanian dalam mengungkapkan semua percikan-percikan rasa yang terjadi dalam hatiku. Aku hanya dia yang engkau anggap tidak lebih, aku hanya merasa seperti itu.

Wahai engkau yang mampu menundukkan hatiku,
jilbabmu indah bagaikan bidadari. Senyummu manis menawan hati. Buat aku gak bisa nahan diri, buat ngungkapin dalam hati “ana uhibbuki ya ukhti”.
Tapi aku selalu menunduk malu.
Tak berani menatap mata indah yang engkau miliki, karena aku takut dapat memudarkan imanku.
Seperti yang engkau tau, aku selalu berusaha menjauh darimu, aku selalu berusaha tak acuh padamu.
Saat di depanmu, aku ingin tetap berlaku dengan normal walau perlu usaha untuk mencapainya.


Tahukah engkau wahai yang mampu menundukkan hatiku?
Entah mengapa aku dengan mudah berkata “CINTA” kepada mereka yang tidak aku cintai namun kepadamu,, lisan ini seolah terkunci. Dan aku merasa beruntung untuk tidak pernah berkata bahwa aku mencintaimu, walau teramat sakit saat mengetahui bahwa aku bukanlah mereka yang engkau cintai, walaupun itu hanya sebagian dari prasangkaku.
Jika boleh beralasan, mungkin aku Cuma takut engkau akan menjadi ”sahabat” bagiku, karena itu aku mencoba untuk mengurung rasa itu jauh ke dalam, mendorong lagi, dan lagi hingga yang terjadi adalah tolakan-tolakan yang membuatku semakin tidak mengerti.
Sakit hatiku memang saat prasangkaku berbicara bahwa engkau mencintai dan takkan ada aku dalam kamus cintamu.
Namun 1000 kali rasa itu lebih baik saat aku mengerti bahwa senyummu adalah sesuatu yg berarti bagiku. Ketentramanmu adalah buah cinta yg amat teramat mendekap hatiku, dan aku mengerti bahwa aku harus mengalah.

Wahai engkau yang mampu menundukkan hatiku.
Andai aku boleh berdo’a kepada Tuhan, mungkin aku ingin meminta agar Dia membalikkan sang waktu agar aku mampu mengedit saat-sat pertemuan itu hingga tak ada tatapan pertama itu yg membuat hati ini terus mengingatmu. Jarang aku memandang wanita, namun saat memandangmu dengan 1 pandangan saja mampu meluluhkan hati ini.
Sebagian teman memintaku untuk membuka tabir lisan ini terhadapmu, namun di sisi lain ada dorongan yang begitu kuat untuk tetap menahan rasa yang terlalu awal yang telah tertancap di hati ini dan membukanya saat waktu yang indah yg telah ditentukan.

Wahai engkau yang mampu menundukkan hatiku,
mungkin aku bukanlah lelaki tangguh yang siap untuk segera menikah denganmu. Masih banyak sisi lain hidup ini yang harus ku kelola dan kutata kembali.
Aku harus menyelesaikan studyku, meraih citaku, juga memperindah akhlakku agar ku mampu memimpin rumah tangga dengan teguh.
Agar ku mampu menahkodai bahteraku nanti dalam indah atau dalam badai.

Juga kamu yang telah menundukkan hatiku,
kamu yg dengan halus menolak diriku menurut prasangkaku dengan alasan belum saatnya memikirkan itu.
Sungguh aku tidak ingin menanggung beban ini yg akan berujung ke sebuah kefatalan kelak jika hati ini tak mampu kutata. Juga aku tidak ingin berpacaran dulu denganmu.

Wahai engkau yang telah menundukkan hatiku,
mungkin saat ini aku milikmu, namun tak akan ku berikan setitik pun saat-saat ini karena aku bertekad dalam diriku bahwa saat-saat indahku hanya akan kuberikan pada bidadariku

Wahai engkau yg tlah menundukkan hatiku,
tahukah kamu betapa saat-saat inilah yg paling aku kutakutkan dalam diriku, jika saja Allah tidak menganugerahi aku setitik rasa malu, tentu aku telah meminangmu bukan sebagai istriku namun sebagai kekasihku.
Andai rasa malu itu tak pernah ada. Tentu aku tidak berusaha menjauhimu.
Kadang aku bingung apakah penjauhan ini merupakan jalan yang terbaik yang berarti harus mengorbankan ukhuwah diantara kita, atau harus mengorbankan iman dan malu ku demi hal yang tampak sepele yang demikian itu. Aku yang tidak mengerti diriku.

Namun wahai engkau yang tlah menundukkan hatiku,
kadang aku berpikir semua pasti berlalu dan aku merasa saat-saat inipun akan segera belalu, tetapi ada ketakutan dalam diriku jika aku melupakanmu. Aku takut tak akan pernah lagi menemukan dirimu dalam diri mereka-mereka yang lain.

dalam penantianku aku berdo'a:

Ya Allah..
Jika memang dialah pendampingku yang tlah engkau lahirkan, gerakan hatinya tuk menujuku, pertemukan kami dalam sebaik-baiknya pertemuan tuk menuju Ridha-Mu. Karena Engkaulah yang berhak atas hati hamba-hambamu.
Dan engkau juga yang kuasa membolak-balikannya.

Ya Rabb..
Bila dia jauh dekatkanlah. Eratkan hati kami dalam ikatan karena-Mu
Ya Allah yang maha pecinta pemilik cinta sejati. Jikalau cintaku kau ciptakan untuk dia,
Tabahkan hatinya..
Teguhkan imannya..
Tegarkan penantiannya..

Ya Rabb sang pemilik hati jikalau hatiku KAU ciptakan untuk dia,
penuhi hatinya dengan kasih-Mu,
limpahkan kelapangan di kalbunya dengan kesabaran.
Temani dia dalam kesepian.

Ya Allah..
Tiada tempat ku bersandar selain pada-Mu.
Kutitipkan cintaku pada-Mu untuknya..
Kutitipkan sayangku pada-Mu untuknya..
Kutitipkan rinduku pada-Mu untuknya..
Mekarkan cintaku bersama cintanya..
Satukan hidupku dan hidupnya dalam cinta-Mu..

Ya Allah..
Ku yakin bila saatnya sudah menghampiri, pasti kebahagiaan itu kan aku dapati.
Mohon beri aku kekuatan dan kesabaran dalam penantianku..
Ya Allah..
Kirimkan dia yang dapat membawa kebaikan, baik bagi duniaku, akhiratku, dan agamaku..
Agar kami sama-sama berjama’ah tuk tetap menuju-Mu..
Aamiin...

Cinta..
Biarkan ia BICARA jika telah tiba masanya..
Saat kau datang membawa sebuah harapan..
Dan biarkan ia menampakkan manis dan indahnya.
Saat kau dan aku telah menyatu dalam Ridha-Nya..
Namun, biarkan ia MEMBISU tuk saat ini..
Agar kau dan aku terjaga dalam sucinya hati

Cinta..
Mungkin menyakitkan, ketika ia harus ku pendam dalam hati..
Tetapi, cinta akan lebih menyakitkan, jika harus ku umbar kepadamu yang belum halal bagiku.
 Mengertilah, cinta..
Diamku bukan karena membencimu..
Diamku bukan karena mengacuhkanmu..
Namun, karena aku menjaga hatimu..

Cinta..
Kan tetap ku biarkan ia tersembunyi..
Dalam do’a dan harapan..
Dalam hati dan juga iman..
yang kelak kan Allah tampakkan..
Jika kau dan aku dipersatukan..

Cinta..
Aku menantimu meski tak kau tau..
Aku merindumu dan tak usah kau tau..
Aku mengharapmu  dan itupun tak harus kau tau..
Cukuplah aku dan Rabbku yg tau..
Karena ku percaya takdir-Nya yang akan memberitahumu.

Cinta..
Mengapa harus gelisah?
Bukankah kau tau takdir takkan salah?
Mengapa harus bimbang?
Bukankah kau tau jalan Tuhan kan terbentang?
Mengapa harus risau?
Bukankah kau tau Allah kuasa persatukan aku dan kau?

Cinta..
Tersenyumlah..
Meski kelak kita memang terpisah..
Yakinlah..
Bahwa cinta itu kan tetap indah..

terima kasih cinta, untuk hadirmu di dalam hatiku.
yang membuat semakin menguatkan istikharahku, yang menyemarakkan taman hatiku...

kutitip sebuah pinta kepadan-Nya. kiranya hadirmu tiada menyesatkan rasaku.
meski hadirmu ku pendam rapat-rapat dalam diamku,
namun menjadi motivasi bagiku untuk menjadi lebih baik lagi terlebih dalam meraih cinta-Nya..

wahai engkau yang telah menundukkan hatiku,
ijinkan aku menutup surat ini dan biarkan waktu berbicara tentang takdir antara kita..

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar